Starlight

Berasal dari dua band Laskar dan JT.70. Starlight, akhirnya melebur menjadi Starlight yang terbentuk pada 26 Februari 2010. Nama Starlight dapat diartikan sebagai cahaya bintang. Mengusung genre pop Indonesia asli, dengan nada ringan dan musik easy listening, Starlight terdiri dari 5 personil yakni Richo, Riyan, Rio, Kokong Lie, Christ dan Ayek.

"Pertemuan kami berawal dari hobi yang sama, dan semuanya mempunyai visi dan misi yang sama, maka kami sepakat untuk membentuk band baru yang kami beri nama Starlight," ungkap Ayek, vokalis Starlight.

Pemberian nama Starlight berdasarkan filosofi dari STAR yaitu bintang dan LIGHT adalah cahaya, sehingga Starlight mempunyai makna filosofi yaitu cahaya bintang. “Tujuan kami membentuk band ini adalah untuk menjadi bintang-bintang yang bercahaya di blantika musik Indonesia. Kami juga punya tujuan dan mimpi bisa mengharumkan nama bangsa dengan hasil karya kami, khususnya karya musik dari anak Riau.

Di Pekanbaru, Starlight sudah banyak mengisi acara musik. Tak heran jika nama mereka di Pekanbaru sudah cukup dikenal. Sekarang, menurut mereka tinggal bagaimana membesarkan Starlight menjadi band papan atas seperti band lainnya.

Untuk genre musik, Starlight memang mengambil pop alternative. Namun lirik dan musik yang mereka tampilkan tidak jauh dari ciri khas daerah asal mereka Pekanbaru, Riau yang identik dengan Melayu. Bahkan dalam setiap tampil Starlight membawakan lagu-lagu Wali band maupun Zivilia. "Awalnya kami mengambil genre pop Melayu, bahkan setiap manggung kami memang sering membawakan lagu-lagu Melayu," jelas Ayek lagi.

Sampai saat ini Starlight berada di bawah naungan Rumah Masa Depan Management (RMD). Mereka diproduseri Oki, additional drummer Andra & The Backbone. Menurut Odjy, manager mereka, Oki adalah salah satu orang yang menjembatani mereka untuk masuk dunia rekaman.

Setelah lima tahun berjuang di dunia musik, dalam lima menit Starlight mampu menembus industri rekaman dan diterima NAGASWARA. Hal ini terjadi karena baru lima menit mendengarkan demo single Teman Biasa, pihak label langsung tertarik dan menerimanya. "Sementara lima tahun kita berjuang, akhinya hanya dalam lima menit saja, lagu kita diterima. Mungkin ini jalan kita untuk menuju kesuksesan," ungkap Odjy menceritakan awal perjalanan Starlight ke Jakarta dan masuk dunia rekaman.

Para personil Starlight berharap single “Teman Biasa” bisa diterima pecinta musik di daerah asal mereka Riau dan juga masyarakat Indonesia. Sampai saat ini, mereka masih terus berkarya untuk memajukan musik Indonesia.