Elkasih

Bila ditanya tentang harapan dan obsesi setiap individu remaja yang memilih music sebagai ‘ruh’ dalam langkah karir, rasanya tak berbeda apa yang diinginkan seorang EL-Ibnu diusia mudanya, “ memberikan karya kecil untuk negri.” Dengan memilih musik sebagai alternative potensi yang dimilikinya rasanya mampu memberikan karya terbaiknya untuk negri yang notabene-nya ‘jengah’ dengan daily rutinitas, entertainment mungkin menjadi pilihan dan musik-lah yang menjadi ‘embun penyejuk’ yang me-refresh kembali kepenatan itu.

Namun, apalah arti seorang Adam tanpa adanya seorang Hawa dan apalah artinya seorang EL-Ibnu ( Vocal ) tanpa ada mereka yang mampu mewujudkan mimpinya. Menyadari hal itu, dengan bermodalkan persaudaraan-nya dengan sang guitarist, Binsar Tobing atau yang akrab dengan panggilan Bin-Bin atau EL-Bin-Bin ini, embrio bermusik-nya semakin terbentuk dengan sempurna, hingga akhirnya nama ELKASIH terlahir dari salah satu ‘rahim insan musik.

” Layaknya orang tua yang memberikan nama untuk si buah hati, bukan semata-mata nama yang tak berarti, ELKASIH membawa satu wacana dan harapan baru dalam lencana musik Indonesia dengan mengusung warna hybrid pop, gendre musik yang diluar dari ke-biasa-an, ELKASIH menawarkan konsep perpaduan melayu, british pop, American rock ditambah karaktek suara vokalis itu sendiri, hingga akhirnya tersajilah menu yang memberikan cita rasa sendiri bagi mereka yang memang mengerti nilai rasa dan aroma dari harmonisasi musik yang diluar batasan menu musik yang pada umumnya. Aaaah teori….

Fakta bicara bukan sebatas teori, dalam usianya yang masih balita mampu melahirkan hits yang memuncah seperti “Kau3kan Cinta, Pergilah Cinta, Annisa, Lelakimu dari album Cinta itu Ada dan Pesan dari Surga yang mampu mencapai penjualan 8.000.000 RBT, bukan angka yang biasa dalam industri musik dengan pertimbangan usia group band tersebut.

Ternyata tidaklah mudah perjalan menuju puncak, ada semak dan belukar yang harus ditempuh, hujan – badai yang menghalang, hewan liar yang harus dijinakan sejenak, onak dan duri yang mesti ditawar disaat tertusuk menembus kulit, sakitnya diperlukan penawar khusus, inilah sebuah perjalanan hidup. Begitu juga ELKASIH, bukan semata-meta group band instan yang tak memerlukan proses pendewasaan di dalamnya, karena kami yakin kupu-kupu itu akan indah dilihat disaat ia mengalami metamorphosis, sama halnya dengan group band ELKASIH betapa berharganya pengalaman dalam perjalanan karirnya, dialah sosok guru berharga dan mampu membangunkan seorang EL-Ibnu dan EL-Binsar dari tidur-nya.

Dengan format yang berbeda, bergantilah nama ELKASIH menjadi . Serupa tapi tak sama, namun secara essensial yang sekarang ini justru adalah elemen yang terdahulu sebelum terbentuknya sebuah band yang berisikan lima orang berdasarkan arahan lebel terdahulu. Yah, butuh waktu empat tahun untuk kembali ke NAGASWARA mengingat EL-Ibnu dahulu pernah menjadi artist NAGASWARA dengan band yang sebelumnya. Namun yang menjadi pembeda, adalah tanda baca yang kini diberi tanda ‘bintang’ diantara EL dan KASIH yang serat arti, bahwa inilah bintang yang sebenarnya, EL-Ibnu dan EL-Binsar.

Dengan single hits “Kamu Memang Gila” menawarkan sentuhan romantis dengan kekuatan lirik yang diciptakan EL-Ibnu ini, mudah-mudahan dapat diterima ditelinga masyarakat. Kalau mengintip sedikit tentang proses terciptanya lagu ini memang benar-benar spontanitas seorang EL-Ibnu, dengan pontensi dan skill yang dimilikinya lirik itu pun terangkai begitu harmonis ditambah pengalaman hidup semasa SMA-nya yang begitu lugu memaknai ironis percinta, diawal terasa begitu manis namun berakhir pada kekecewaan, hingga terciptalah lagu,”Kamu Memang Gila” ini.

Apalah arti sebuah lagu jika tidak meninggalkan makna, mungkin seperti inilah cara seorang musisi memberikan pandangan realita cinta dari sudut yang berbeda agar memperlakukan pasangan seenaknya hanya lantaran dia mencintai kita, memanfaatkan rasa ‘menghamba’ orang yang benar-benar mencintai begitu tulus, bukan saja kelebihan yang kita miliki tetapi kekurangan itu pun menjadi kesempurnaan dia dalam mengungkapkan bahasa cinta yang ia sulam sekalipun air matanya ia sembunyikan dari kita. Balaslah kesetiaan dengan kesantun kata, keperacayaan dengan pengertian, membalas perhatian, kerinduan dengan rasa memiliki seutuhnya. Pahamilah,”saat-saat itu akan terasa berarti ketika ia hilang dari sisi dan hidup kita.

"Tetapi apalah arti lirik tanpa makna, nada tanpa irama. Begitu pun tanpa adanya industri musik yang dengan sadar merangkul, menganggap insan musik dalam hal ini para musisi bagian dari keluarga bukan saja mitra bisnis semata tetapi seutuhnya melindungi hak-hak, transparansi penjualan RBT serta mendukung baik secara moril dan material, hingga akhirnya musisi merasa nyaman dirumahnya sendiri.